Sabtu, 29 Agustus 2015

Cerita LDR: Karena Kalimat Tak Akan Bermakna Tanpa Ada Spasi *ngutip


Long Distance Relationship atau biasa disebut LDR bukan lagi hal yang aneh ya di jaman sekarang. Seperti sebuah iklan media sosial di televisi yang sangat mewakili beberapa potret pasangan suami istri yang menjalani LDR...sangat "touch" banget bagi yang pernah mengalami...

LDR adalah pilihan...pilihan yang diambil karena keterbatasan-keterbatasan yang tidak bisa kita kendalikan...Ada banyak pertimbangan yang diambil oleh pasangan ketika memutuskan untuk menjalani LDR. Dan yang pasti...LDR bukanlah keputusan yang mudah.

Berbagai alasan pasangan suami istri menjalani hubungan yang terpisah jarak. Alasan yang paling lazim adalah karena pekerjaan dan pendidikan. Ada banyak situasi yang tidak memungkinkan bagi sang suami membawa serta anak istrinya. Alasan-alasan yang mungkin sangat rumit hingga...LDR lah pilihannya...

Saya yakin, bagi mommy2 yang pernah melalui hubungan jarak jauh pasti merasakan rindu yang tertahan menyesak ke dada...saat deretan huruf di watsap, bbm ataupun line tidak lagi mampu mewakili apa yang dirasakan...saat hanya tangisan dalam diam yang bisa sedikit menenangkan....
Mommy2 para pejuang LDR pasti pernah mengalami saat2 hati yang gundah gulana tapi tetap berusaha mencipta seulas senyum di hadapan anak-anak, berupaya tetap ceria membersamai anak-anak walau hati berkecamuk menahan rindu pada suami...samaaa saya jugaaa #mewek

Luapan-luapan emosi yang bergerak naik turun di setiap detik penantian...adalah sesuatu yang wajar, masalah yang tercipta pun ga jauh-jauh dari seputaran: telpon yang ga diangkat, sms/bbm/wa ga dibales padahal udah di "read", jadwal pulang suami yang meleset dari rencana, jadwal cuti suami yang tak kunjung terealisasi *curhat deh...hehehheeh....Tapi sungguh ini adalah saat2 dimana Allah ingin mengajarkan banyak hal...

tentang syukur
tentang sabar
tentang ikhlas
tentang setia
tentang percaya
tentang......


betapa berartinya dia bagimu............


















Jumat, 28 Agustus 2015

Sebuah Teori yang Menarik: Teori Tindakan Moral dan Tindakan Rasional

OH NOOOOOOOOO!!!!!!!!!
Baca judulnya aja udah pada keki kali ya, apa sih.....teori-teori gini lieuuur bacanya, bikin puyeng, ga menghibur ...eiiit...tunggu duluu....

Gaiiis, memang ini tulisan adalah oleh-oleh dari sepenggal kisah saya saat "terjebak" di bangku kuliah jurusan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan (PWD). Disiplin ilmu yang cukup berbeda dengan minat saya sebelumnya (manajemen agribisnis). Soo...jika ada yang mau koreksi dipersilahkan yaa....monggo.... 

Dari sekian banyak teori pembangunan yang saya pelajari selama kuliah di PWD, teori yang tertera pada judul di atas cukup menarik bagi saya. Saya tidak ingin membahas panjang lebar mengenai kedua teori tersebut, hanya mengulas sedikit saja ;)

Kedua teori tersebut lahir dari tokoh2 antropologi yang mempelajari kehidupan sosial ekonomi petani pada tahun 1973-1983 (mohon koreksi buat yang lebih faham :))
Intinya Tokoh-tokoh ini memiliki sudut pandang yang berbeda dalam melihat sikap petani dalam menjalankan kehidupan sosial ekonominya.
-----Teori tindakan moral yang disampaikan oleh Scott (1973) dan disempurnakan oleh James Scott (1983) menyimpulkan bahwa petani dalam menjalankan kehidupannya bertindak atas dasar dorongan moral, kehidupan yang saling membantu, mempertahankan keharmonisan dan keterikatan antar individunya-----
-----Sementara itu Samuel Popkin (1979) melihat bahwa apa yang dilakukan oleh petani dalam kehidupan sosial ekonominya bukanlah untuk kepentingan kolektif tapi karena rasionalitasnya untuk dapat bertahan hidup, bersifat sangat individualistis. Bahwa petani pun adalah sama dengan manusia lainnya bekerja untuk menghidupi dirinya. Jika ia seorang pemilik lahan ia memilih mempekerjakan tetangganya sebagai buruh bukan karena ingin menolong tetangganya itu tapi lebih pada alasan rasionalnya untuk mendapat sumberdaya murah dan hubungan patron klien----

Kenapa menarik bagi saya...karena setelah mempelajari teori ini, banyak hal yang akhirnya menjadi renungan buat saya.

Pertama...bahwa kedua teori tersebut lahir dari tokoh2 yang bisa saja berbeda latar belakangnya, perjalanan hidupnya, lingkungan ia dibesarkan, daaan banyak faktor-faktor lain......sehingga saat mereka melihat satu objek yang sama, cara pandang mereka jadi berbeda dalam penekanan akar permasalahannya (faktor subjektivitas).

Kedua,..di jaman sekarang yang serba bebas siapa aja bisa berpendapat, maka perbedaan cara pandang sudah tidak bisa terelakkan. Bahkan jika Scott  dan Popkin mengeluarkan teori ini melalui studi yang panjang baru bisa dipublikasikanj, pada zaman sekarang sangat mudah berpendapat dan mengeluarkan teori2 baru daaan bisa langsung dipublikasikaan. Hampir di seluruh lini kehidupan,  politik, ekonomi, bisnis, "parenting" (lagi hit), pendidikan, dll yang sangat mudah kita dapatkan. Akibatnya, jika tidak terus mencari pengetahuan (baca: kebenaran), kita jadi bingung membedakan mana yang baik (baca: benar) dan mana yang buruk (baca: salah). 

Ketiga...dalam keseharian kita, tak bisa dipungkiri bahwa antara rasionalitas dan moralitas sering menjadi pertimbangan yang kadang tanpa kita sadari berperang dalam diri kita, sebagaimana kasus petani di atas. Kita sering dihadapkan pada pilihan-pilihan yang menuntut kita harus memilih antara rasionalitas dan moralitas.

Akhirnya saya merasa sangat beruntung menjadi seorang muslim. Bahwa Allah menciptakan manusia sebagai makhluk paling sempurna diantara seluruh makhluk ciptaanNya karena manusia memiliki akal  (rasional) dan perasaan (moral) tidak hanya salah satunya...karena Allah yang Maha Mencipta sangat tahu bahwa manusia butuh keduanya. Dan Allah menjadikan keduanya bukan untuk saling bertentangan tapi saling melengkapi....

DihadiahkanNya alquran sebagai pedoman bagi manusia untuk bisa tau kapan saatnya bertindak rasional kapan saatnya moral dikedepankan....diturunkanNya seorang Rasul sebagai teladan dalam mengelola akal dan perasaan secara baik.

Salat, puasa, zakat, berhaji adalah bukti keseimbangan antara rasionalitas dan moralitas dalam islam...masyaa Allah...

- Just sharing -













Selasa, 25 Agustus 2015

Balada emak-emak mikirin negara ^_^

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS ramai diperbincangkan dimana-mana...hampir semua lapisan membicarakan ini. Ada yang mengaitkan dengan kinerja pemerintahan, ada yang mengaitkan sama strategi finansial dan ga banyak juga yang menjadikan isue seksi ini sbg ajang lucu-lucuan....biar ga stress kali ya...

Oke, tulisan kali ini hanya sekedar pandangan dari seorang ibu rumah tangga terhadap apa yang menimpa perekonomian negara kita khususnya dan perekonomian dunia akhir-akhir ini (ngomongnya ala-ala mba desi anwar :D)...yaah, walaupun urusan cuci piring, nyapu, nyuci, nyetrika, urusin anak dan memasak rasa-rasanya membuat saya ga sempat lagi mikirin yang berat-berat begini, sungguuuuh....

Tapi saya juga tidak bisa menutup mata dari apa yang telah terjadi, toh efeknya juga saya rasakan kok...tentang pelemahan rupiah bisa kita baca dari berbagai sumber, tanya aja mbah gugel :), salah satunya yang agak sistematis dibahas pada postingan ini: https://litterpress.wordpress.com/2015/08/25/memahami-pelemahan-rupiah-secara-benar/.

Kalau curhat sesama ibu-ibu "kekinian" seringnya saya menemukan kekhawatiran yang diakibatkan baca postingan di fb, baca bc di watsap atau bbm. Tapi kalau denger cerita ibu-ibu "keduluan" keluhannya lebih pada fakta riil di lapangan seperti harga-harga yang pada naik, ongkos angkot naik, semua pada naik, cuma ingus aja yang turun mulu *nyengir.

Hawa-hawa kekhawatiran dan kegelisahan mulai terasa di sekeliling saya. Setelah membaca beberapa sumber saya menyimpulkan bahwa memang ekonomi lagi sulit (kemanee ajeee guwee!!!). Yah...saya akui sempat bersikap skeptis dengan apa yang saya lihat dan apa yang saya baca....karena gregetan aja pada saling menyalahkan yang malah bikin suasana makin horroorrr...(apa perasaan saya saja?)

Yang jelas, saat ini yang bisa saya lakukan adalah sebatas apa yang bisa saya kendalikan, yoi doong. Mempelajari keadaan dengan baik, dan senantiasa memperbaiki diri dan keluarga menjadi lebih baik lagi...Jujur, sebagai seorang wanita naluri saya memang lebih kuat dibanding logika, tapi memang ada saatnya kita kesampingkan logika karena hidup ini...kadang-kadang tak ada logikaaaa!!!*song

Senang mendengar teman-teman yang masih optimis dengan usaha yang dijalankan, di saat para pengusaha besar menarik investasinya, di saat para orang kaya berlomba-lomba menukarkan dollarnya, memainkan sahamnya...menahan modalnya....di saat itu banyak juga teman-teman pejuang ekonomi kerakyatan yang bangkit dengan gagah perkasa menguatkan tekad meraih rizki yang berkaah insyaa Allah...

Akhir kata...bagi yang senasib dengan saya, seorang ibu rumah tangga biasa, sudah saatnya cerdas mengelola uang belanja dari suami (saya juga lagi belajar mengurangi belanja2 yang ga penting heheheh*), syukur-syukur yang punya keahlian bisa mengembangkan diri agar lebih optimal lagi, perbaiki lagi amalan harian kita (hikz..self reminder), dan persiapkan anak-anak menjadi generasi tangguh yang bisa memberikan warna untuk kebangkitan negeri yang kita cintai ini....amiiin....